Orientalism Versus Oksidentalism
Masyarakat Indo di Damaskus, kemarinan kedatengan tamu dari Jerman. Namanya Dr. A (Gw rahasiain ach…), dia orang Indo juga seh cuman dah lama di Jerman sekitar empat ato lima taon getu. Dia kuliah jurusan filsafat. Katanya dia ke Damaskus yah cuman pengen ngunjungin tempat-tempat bersejarah aja sekalian ziarah ke makam-makam sahabat Nabi s.a.w.. Gak usah pikir panjang PPI ama PCI-NU Syria menggelar diskusi ilmiah yang judulnya “Orientalisme Versus Oksidentalisme”. Nah, Gw nimbrung dewww. Asyik juga meski agak molor dimulainya yang janjinya jam dua eh jam setengah empat baru dimulai. Sebenere seh diskusi ini diadakan secara mendadak, mengingat Dr. A juga cuman beberapa hari aja di Damaskus. Tapi, meski begitu keseriusan terus merajalela, terutama ketika Dr. A mengungkapkan unek-uneknya tentang orientalis dengan tanpa makalah (maklum kan mendadak…). Jadi jalan satu-satunya yah cuman ndengerin apa yang ia omongin lalu klo ada pertanyaan yah disimpen buat waktu termin nanti getu ;p
Dari sekitar satu setengah jam ngeluarin terminologi-terminologi handalnya, Gw bisa nangkep isinya. Kurang lebihnya gini, “Alangkah banyaknya semangat Barat yang patut kita tiru dan contoh. Bagaimana mereka menjadi pemenang. Bagaimana mereka membangun peradabannya sekarang (sulit dibayangkan seabad lalu mereka masih di zaman koboi yang saling bunuh-membunuh). Bagaimana etos kerja, kerajinan, kebersihan, ketekunan, tepat waktu, dan disiplin dijalankan mereka dengan sebaik mungkin. Bagaimana ilmu pengetahuan, daya kritis, dan persaingan sehat begitu ditinggikan. Betapa prestasi, kerja keras, dan kreativitas begitu diagungkan.” Dan tentunya masih banyak lagi. Dia juga mengambil contoh nyata peristiwa Woodstock 69, yang merupakan jelmaan seonggokan teknologi tinggi. Tapi emang bener kali yee… Coba Loe-Loe renungin ketika Barat diem-diem mulai melirik ke Timur, seperti meditasi, sufisme dan musik etnis. Ato Loe-Loe boleh malu ketika banyak anak muda Barat menggandrungi gamelan secara akademis dan memainkannya dengan begitu kreatif. Sedangkan kita yang notabene bernenek-moyang kental dengan gamelan merasa ogah-ogahan. Mending ntu tuh mainin electric guitar merek Vendor ato bassguitar made by Samick lengkap dengan drum buatan Pearl ato Remo barangkali…
Sangat logis bukan, ketika semangat globalisasi yang kita tangkap hanya sebuah citra belaka, bukan simbol ato pedoman. Mereka meniru kita secara beradab, dan kita tidak punya hasrat untuk meniru mereka secara akal-pikiran, dan hanya nafsu. Persetanlah…..! ;’( Kemudian ingatan Gw mencoba untuk mengcopy paste sesosok orang, yaitu Ravi Shankar. Manusia ini berusaha memainkan peran sebagai duta budaya dari Timur. Meski tuduhan jual diri ada dipundaknya, namun itu hanyalah omong kosong. Bukti misi-misi terus ia jalankan dengan tentunya memegang nilai-nilai dari bangsanya. Bahkan dia sempat menjadi guru George Harrison, sang Gitaris The Beatles dan menjadi tamu dalam Woodstock 69 itu tadi. Wow jadi gimana neh kita?? Niru Barat katanya nggak etis takut kepeleset ancaman Westoksinasi (racun barat bertemakan Sex, Smoke, Sport and Song)?
Nggak usah bingung-bingung ini nih renungin nyang ini, “Kalau saja kita bisa melihat Barat sebagai kajian Oksidentalisme, sebagaimana Barat melihat kita sebagai kajian Orientalisme, yang bisa kita kritisi sekarang diambil manfaatnya, mungkin generasi muda kita tidak akan terlalu dijejali sampah-sampah peradaban yang mereka buang dan kita agung-agungkan. Kalau saja…” Wah diskusi ditutup dengan makan Sawarma, widih asyik dah dapet ilmu dapet makan lagie, dah kenyang otak kenyang makan lagie… :)
